Postingan

Disembunyikan atau Tersembunyi?

(Part I) Apakah kau mencariku, hai cerita lama? Aku sedang bersembunyi. Sembunyi pada ruang yang ternyata tak bisa kau lihat sedikit pun. Mengapa? Karena aku telah terlupakan oleh kenangan mesin waktumu. Ya, terlupakan. Bukan tersisihkan dari kenangan-kenangan barumu. Aku (sudah) terlupakan. Seandainya yang telah terlupakan tetap bisa berkirim rindu. Melalui apa? Harapan? Angan? Mencari celah di ruangan 'terlupakan' berbeda dengan mencari celah di dalam ruangan 'tersisihkan'. (Part II) Oh salah, ternyata aku tidak hanya sembunyi. Namun aku telah tersembunyi. Terlupakan oleh mesin waktu dalam ingatannya. Aku telah tersembunyi. Terlupakan. Seandainya yang tersembunyi dan terlupakan mampu berkirim pesan. Namun, apalah aku yang hanya tersembunyi dan terlupakan. Harap pun tak memiliki akar untuk mampu tumbuh. Selamat malam. Salam rindu dari yang terlupakan.~ (Mei 2016)

Persimpangan Lain

Sudut matanya memancarkan rindu yang mati tertahan Harap yang terbunuh oleh ketidakpastian Duka dalam yang tersembunyi jauh di lubuk hati, tergantung tak berharap di ujung tawanya Harap seperti tak bernyawa tetap dia rawat Kenangan-kenangan itu seperti angin yang tak pernah diam, bergemuruh mengalir deras di setiap ingatan, menaburkan luka pada ladang yang gersang. Entah sampai kapan berhenti menipu diri Entah sampai kapan berhenti menyakiti hati sendiri. Kini saatnya beranjak membasuh air mata dan luka Menyaring semua pahit dan meninggalkannya Kini hati telah mampu, hati telah kuat dengan sendirinya Lelah hati yang tak membiarkan untuk mundur. Namun hanya perlu berbelok dan memilih persimpangan lainnya, kemudian cukup berkata "aku berhenti" lalu melangkah pada persimpangan baru~ (Juli 2016)

Penikmat Sastra

Aku ini hanya penikmat sastra.  Bagaimana bisa aku menikmati sastra tanpa adanya syair? Bagaimana bisa aku berhenti menulis tentangnya jika dia adalah syair bagiku. ~ (September 2016)

Berdamai dengan "Jenuh"

Percuma saja berusaha melawan kemudian membunuh "kejenuhan". Dia akan semakin kuat. Ternyata membunuhnya hanya cukup dengan membiarkan kejenuhan itu memeluk diri seerat yang dia inginkan. Dengan begitu, dia akan memudar sedikit demi sedikit. Semakin melawan, semakin berusaha untuk "semangat", semakin kuat kekuatan dia. Ternyata hanya cukup membiarkan dan berdamai dengannya. Mengikuti setiap alur "kejenuhan"nya. Sulit tidak sulit, mudah tidak mudah. Negatifnya ya bakalan lama matinya. Setiap orang akan mengalaminya. (Oktober 2016)

Berdirilah di Kaki Sendiri!

Dan dalam melangkah, banyak hal yang membuat diri tertarik terhadap berbagai hal tersebut, baik itu kondisi, pandangan, dan sebagainya. Hati-hati dalam percaya dan tertarik terhadap "sesuatu". Hingga akhirnya hanya langkahmu sendiri yang harus tetap kau lihat karena (terkadang) yang lain hanyalah bersifat sementara, ilusi, atau tipuan belaka. Kemudian memaksamu untuk sulit percaya pada semua hal yang akhirnya hanya pada (langkah) diri sendirilah kau percaya. Menunduk dan tetap menunduk. Berhati-hati untuk tidak tergoda pada segala hal yang berujung pada kekecewaan, sakit hati, atau bahkan pengkhianatan. Lebih baik tetap menatap ke bawah, menatap langkah sendiri, mendengarkan setiap bisikan hati, dan memastikan diri untuk tetap berdiri di kaki sendiri, memastikan dia tetap kokoh. Berpegang pada prinsip sendiri itu tidak mudah. Godaan berbagai hal akan semakin besar setiap satu langkahnya. Bertahan, bersabar, dan ikhlas. Pengkhianatan atau hal-hal besar lainnya akan d...

Jangan Kalah!

Ketika dunia ini mencercamu dengan berbagai pengkhianatan hingga tak ada lagi orang yg bisa kau percaya, pulanglah. Kembalilah ke rumah, pulanglah (sejenak) hingga keberanianmu melawan berbagai pengkhianatan "hidup" itu kembali sembuh. Karena memang rumahlah tempat teraman dan terpercaya. Bertahanlah. Pulanglah kemudian kembalilah bertempur. Jangan kalah, jangan kalah, dan jangan kalah. Beranilah, dan beranilah. Bertahanlah, esok kau akan pulang. (3 Desember 2016)

Binatang Jalang?

Malam begitu larut, meninggalkan suara jangkrik, menemani bulan. Jalanan pun terlihat begitu kosong. Kemudian aku mendengar seorang pemuda yang berteriak lantang berkata Mereka bilang, manusiakah kami? Mereka bilang, hewan langka kah kami? Mereka hanya mampu melihat dan menilai dari luar, dari satu sudut pandang. Sekarang, siapa yang bukan manusia? Lebih baik kami dinilai seperti bukan manusia, karena memang itu konsekuensi kami. Bagaimana bisa dikatakan manusia jika mata tak terlelap selama dua hari, hati dan pikiran selalu diajak berperang dengan emosi dan keegoisan beberapa orang, tubuh tak berhenti bekerja demi untuk melakukan yang terbaik. Apalah kami yang penuh dengan dosa. Dan mereka para kritikus yang sungguh suci. Lagi dan lagi, kami selalu diinjak martabat dan harga diri. Tanpa sebuah pembelaan, kami hanya diam. Berharap mereka mampu membuka mata, menilai dari berbagai sudut pandang. Kami ini memang manusia penuh dosa, hanya mampu berusaha melakukan yang terb...